PERUBAHAN PARIGI MOUTONG

PERUBAHAN PARIGI MOUTONG

Jumat, 24 Agustus 2012

PROFIL CANDIDAT BUPATI PARIGI MOUTONG 2013


CATATAN TASWIN BORMAN

  • Lebih Dekat dengan Taswin Borman Perjalanan panjang dalam hidup seseorang selalu memuat sejumlah pengetahuan. Hidup yang diawali oleh kelahiran dan diakhiri pada saat tertentu akan menciptakan siklus kehidupan. Secara antropologis, manusia dikenal sebagai makhluk Tuhan yang memiliki jiwa dan raga. Begitu juga dengan konsepsi manusia menurut Aristoteles, yakni zoon politikon (makhluk yang berpolitik), kemudian dikenal juga istilah homo homuni lupus. Sementara dalam sejarah manusia selalu dan selamanya akan berstatus sebagai pelaku sejarah dalam sebuah peristiwa yang terjadi pada ruang dan waktu tertentu. Pengetahuan mengenai sejarah (seseorang) manusia sebagai pelaku membuatnya istimewa. Menjadikan manusia sebagai kajian utama dalam sejarah, pada hakikatnya belum banyak dilakukan. Kajian tentang manusia seringkali ditemukan dalam biografi dan autobiografi. Kemudian ada juga feature, profil, sosok dan obituary. Keempatnya memiliki perbedaan antara satu sama lain, tetapi juga memiliki persamaan. Persamaan keempatnya adalah sama-sama menjadikan manusia sebagai topik kajiannya. Sementara perbedaannya banyak sekali. Biografi ditulis oleh ilmuwan dengan menjadikan seorang tokoh sebagai pusat tulisan, tetapi sang tokoh itu umumnya telah meninggal dunia. Otobiografi dibuat oleh seseorang mengenai dirinya sendiri dan kehidupannya. Feature ditulis untuk mengenang seseorang yang dianggap memiliki kelebihan yang dapat menjadi pelajaran di masa depan. Kemudian, obituary selalu bertutur mengenai seorang tokoh yang baru saja meninggal. Sedangkan profil merupakan laporan singkat mengenai satu sisi kehidupan seseorang. Begitu juga dengan sosok, istilah ini tidak jauh berbeda dengan profil. Sulawesi Tengah memiliki sejumlah tokoh lokal yang mempunyai konstribusi terhadap perkembangan Sejarah Sulawesi Tengah. Tokoh-tokoh lokal di Sulawesi Tengah berkiprah di berbagai bidang kehidupan, salah satunya adalah bidang politik. Mereka umumnya berada pada ranah politik praktis. Sehingga banyak yang tampil sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah. Kelompok tokoh dijajaran ini berasal dari berbagai kabupaten kota di daerah ini. Pada Pemilu 2009 yang lalu, Sulawesi Tengah terbagi atas enam daerah pemilihan. Salah satunya Dapil III Kabupaten Parigi Moutong. Dapil ini dikenal sebagai wilayah yang sangat banyak jumlah pemilihnya, sekaligus yang paling tinggi partisipasi politik masyarakatnya. Pemilih di Dapil ini telah memilih seorang tokoh masyarakat yang berasal dari Moutong, yakni Taswin Borman, putera Daerah berusia 58 tahun. Siapa Taswin Borman? Bagaimana proses hidupnya hingga meraih gelar Magister? Bagaimana perjalanan karier beliau hingga menjadi anggota DPRD? Ketiga persoalan inilah yang menjadi topik pembicaraan kali ini. Taswin Borman merupakan sosok yang sangat familiar di Kabupaten Parigi Moutong. Tokoh yang dikenal oleh masyarakat Parigi sebagai sosok yang baik dan mampu beradaptasi maupun menerima siapa saja. Ia adalah sosok pemimpin yang berjiwa religius memiliki perhatian kuat terhadap agama dan kehidupan masyarakat. Masa Kecil Dan Latar Belakang Keluarga Saudara sepupu Politisi Sutomo Borman ini lahir pada tanggal 5 Maret 1951 di Moutong. Ia (Taswin Borman) atau yang akrab dipanggil ‘Ka Ino’ terlahir dari keluarga aristokrat Kerajaan Moutong. Hal ini diasumsikan sebagai sebuah keunggulan tersendiri bagi dirinya yang juga politisi. Legitimasi rakyat Moutong sangat terasa pengaruhnya. Ayahnya Abdullah Borman merupakan keturunan langsung Borman salah satu aristokrat Kerajaan Moutong dan ibunya bernama Non Nusi wanita beruntung dari Gorontalo. Anak ketiga dari sembilan bersaudara ini memiliki saudara-saudara antara lain, Ulfa Borman, Ismet Borman, Parni Borman, Rosni Borman, Marni Borman, James Borman, Rusli Borman, dan Henni Borman. Taswin Borman hidup dalam bingkai keluarga yang baru saja mengakui keberadaan dan kemerdekaan Indonesia. Artinya keluarga aristokrat Moutong telah menyerahkan hak dan kekuasaan atas tanah dan segala simbol-simbolnya ke NKRI. Di masa lalu keluarga ini begitu superiot. Sehingga pergerakan dan penggambungan secara sukrela ini telah berhasil mempengaruhi opini dan status sosial mereka di mata masyarakat. Situasi itu berlangsung dari tahun 1945-1959, ketika status wilayah Swapraja dihapuskan pemerintah. Taswin Borman lahir pada periode itu, tepatnya pada 5 Maret 1951. Anak laki-laki dari keluarga ini tumbuh sebagai anak yang mandiri. Bermain bersama kawan-kawan kecilnya, dan juga saudara-saudara adalah agenda hariannya. Ia menghabiskan masa kecilnya di Moutong yang saat itu merupakan pusat dari kerajaan Moutong. Taswin Borman masih mengingat beberapa sahabat kecilnya, seperti Ibrahim, Hasan, dan lainnya yang hingga kini kenangan tersebut masih mengabadi dengan kuat. Walaupun kini mereka telah lama terpisah oleh waktu dan ruang. Pada usia 6 tahun, putera Moutong yang satu ini mengalami sebuah revolusi paling penting dalam hidupnya. Tahun 1957, ia mengawali kehidupan baru sebagai seorang murid di Sekolah Rakyat Moutong. Sekolah Rakyat yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Awalnya sekolah ini hanyalah Sekolah Rakyat Kelas 3. Kemudian ditingkatkan menjadi SR Kelas 6 pada tahun 1936 dan akhirnya pada tahun 1952 dijadikan sebagai SR Kelas Enam. Dengan demikian, Taswin Borman menjadi murid di sekolah tersebut ketika telah menjadi SR Kelas 6 atau biasa disebut SR saja. Selama di SR, Taswin Borman tidak pernah tinggal kelas. Dia termasuk salah seorang murid yang cerdas. Kecerdasan biasanya menjadi pemicu timbulnya animo dan motivasi untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Sejak Dini Politisi ini sudah ikut aktif di kegiatan-kegiatan ekstra sekolah. Pengalaman inilah yang menjadikan beliau hingga saat ini selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Enam tahun berlalu di SR seperti tidak terasa, terlewati begitu saja dengan sejumlah kelakuan-kelakuan yang unik dan lucu jika diingat sekarang ini. Akhirnya pada tahun 1963 ia dan seluruh murid di Sekolah tersebut dinyatakan lulus. Pada bulan Desember 1963, Beliau terdaftar sebagai seorang siswa di Sekolah Menengah Pertama di Parigi. Saat itu SMP Parigi belum lama didirikan oleh pemerintah. Sekolah ini telah memberi peluang kepada penduduk Pantai Timur Kabupaten Donggala. Ketika itu wilayah Moutong berada di bawah pemerintahan Kabupaten Donggala, melalui kewedanaan yang kemudian sesuai Peraturan Daerah berubah menjadi Pembantu Bupati wilayah Pantai Timur. Istilah Pembantu Bupati wilayah Pantai Timur berkahir pada tahun 2002, ketika wilayah Parigi Moutong dimekarkan dari Kabupaten Donggala. Sejak tahun 1952, kondisi dan situasi ini sudah berlangsung. Parigi sebagai satu-satunya kecamatan yang telah berbenah dan mulai menunjukkan cirinya sebagai kota kecil. Parigi berposisi sebagai pusat, sedangkan daerah sekitarnya baik desa-desa yang ada di kecamatan lainnya berfungsi sebagai periperi. Posisi ini yang membuat pemerintah membuat kebijakan untuk mendirikan sekolah di Parigi sebagai bentuk dari perwujudan pelaksanaan UUD 1945 pada bidang pendidikan “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tiga tahun lamanya, ia menuntut ilmu di sekolah tersebut. Pada tahun 1966, Taswin Borman lulus dari SMP tersebut. Rupanya keadaan atau rutinitas pendidikan di Parigi tidak banyak terganggu oleh kondisi dan situasi politik di tingkat nasional. Padahal beberapa desa di wilayah Pantai Timur dikenal sebagai basis Partai Komunis Indonesia. Selulus dari SMP Parigi, Taswin Borman mengikuti Pendidikan di Tinombo selama satu tahun (1966-1967) kemudian pada tahun 1967 ia melanjutkan pendidikannya di Gorontalo. Ia berangkat bersama dengan sang kakak. Ia masih mengingat kisah perjalanan ke Gorontalo menuntut ilmu. Mengapa ia tidak memilih Palu atau Donggala sebagai tempat untuk menuntut ilmu? Jawabannya sederhana saja, jarak antara Moutong dengan Palu dan Donggala yang cukup jauh. Kemudian kondisi jalan dan alat transportasi yang belum memadai menjadi kendala tersendiri. Kedua kota itu hanya dapat ditempuh dengan perjalanan darat saja. Jarak, kondisi jalan, alat transportasi, dan sarana transportasi yang belum mamadai dianggap sebagai sebuah tantangan terberat pada masa itu. Olehnya itu, pilihan jatuh ke Gorontalo. Ada dua alasan, yaitu (1) jarak antara Moutong dan Gorontalo yang relatif tidak jauh adalah faktor utama pilihan itu. (2) Kondisi Sarana dan Prasarana ke Gorontalo sudah lancar meski belum memadai. Apalagi kota ini dapat dijangkau melalui jalur darat dan laut. Pelabuhan rakyat Moutong juga berfungsi untuk menghubungkan antara Moutong dengan Gorontalo. Itulah dasar pilihan tersebut. Walaupun Kota Gorontalo hanyalah sebuah daerah tingkat dua saja yang berada di bawah pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara. Tahun 1969, Taswin Borman lulus SMA Negeri Gorontalo. Semangat menuntut ilmu terus membubung tinggi. Atas persetujuan Ibunda tercinta ia berangkat ke Kota Manado. Di Kota ini ia mendaftar pada Universitas Samratulangie Manado. Pilihan terhadap Universitas Samratulangi tidak pernah lepas dari tiga hal, yaitu (1) Tahun 1960-an akhir, Kota Manado menjadi salah satu tujuan masyarakat, khususnya pemuda Sulawesi Tengah untuk menuntut ilmu. Popularitas Manado bagi masyarakat pendidikan Sulawesi Tengah bersaing dengan Yogyakarta, Jakarta, Makassar, dan Surabaya. Selain itu kota ini mudah dijangkau dan ditunjang dengan akses yang begitu mudah. (2) Adanya pengaruh dari para pendidik yang dikirim atau didatangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Sulawesi Tengah pada periode awal abad 20 untuk mengajar di berbagai sekolah pemerintah. Sehingga di Sulawesi Tengah banyak sekali ditemukan guru-guru yang berasal dari Sulawesi Utara. Kualitas mereka yang mendapat pola pendidikan Belanda sangat mengagumkan, maka beberapa orang siswa memilih Manado sebagai tempat untuk mencari ilmu. (3) Akses Moutong melalui Gorontalo sangat mudah daripada daerah lain. Oleh karena itu, pilihan ke Manado diangap lebih rasional dari pilihan yang lain. Di Universitas Samratulangi beliau memilih untuk kuliah di Jurusan Administrasi Negara, sebuah jurusan bergengsi pada masanya. Tiga tahun lamanya ia menuntut ilmu di jurusan Administrasi Negara Universitas Samratulangie. Pada tahun 1973, Taswin Borman lulus dari perguruan tinggi dengan gelar Sarjana Muda. Tiga tahun sangat pas dengan waktu kuliah. Setelah meraih gelar Sarjana Muda, setiap individu Mahasiswa berusaha meraih gelar Sarjana Lengkap. Menurut John Maxwell dalam buku Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani bahwa tugas utama yang masih harus dikerjakan untuk meraih gelar sarjana penuh adalah menyerahkan skripsi sesuai dengan disiplin ilmu yang dipilihnya. Sekolah di Manado tidak ia jalani begitu saja, selain menuntut ilmu secara formal di Bangku kuliah ia juga ikut berbagai latihan-latihan kepemimpinan. Ketika masih berada di Manado, ia pernah mengikuti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) di Manado. Kegiatan ini dapat dipastikan sebagai kegiatan pelatihan lanjutan setelah mereka berhasil melakukan Latihan Dasar. Selain itu, ia juga mengikuti Penataran Pelatihan dan Simulasi P4 oleh BP7 Manado. Tidak puas dengan tingkat pendidikannya, sehingga hanya memperoleh gelar Sarjana Muda, maka Taswin Borman kembali melanjutkan kuliahnya lagi. Namun kali ini ia tidak memilih Manado lagi, melainkan ke Makassar. Ia memilih melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN). Sekolah Tinggi ini menjadi favorit bagi para Pegawai Negeri Sipil yang berijazah Sarjana Muda untuk melanjutkan studinya. Selain beliau masih banyak para PNS di Sulawesi Tengah yang kuliah di sana. Salah satunya adalah Chaerudin Zen yang saat ini menjadi teman duduk beliau di Kursi DPRD Provinsi Sulawesi Tengah. Pendidikan di Sekolah Tinggi tersebut diselesaikan pada tahun 1984. Sebelas tahun setelah menyelesaikan studi di Universitas Samratulangie Manado. Ia menulis skripsi yang berjudul, “Peranan Staff Dalam Pelaksanaan Tugas Umum Pemerintahan dan Pembangunan Pada Kantor Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah Ditinjau Dari Segi Manajemen”. Konstribusi Universitas diluar daerah terhadap perkembangan Pendidikan di Sulawesi Tengah memang sangat besar. Universitas mengemban tugas penting pendidikan masyarakat yang melakukan studi Perguruan Tinggi, sebagaimana dikemukakan oleh Hovda, J. A. Ponsioen, dan Astrid Susanto. Menurut Hovda bahwa universitas merupakan suatu pusat pendidikan dan persiapan dari sumber-sumber tenaga manusia sehingga universitas perlu memberikan landasan moral, politik dan kemampuan kepada anak didiknya. Hampir senada dengan Hovda, J. A. Ponsioen menyatakan bahwa universitas mendidik kearah penyesuaian diri dengan lingkungan, melalui proses sosialisasi sehingga anak didiknya dapat menjadi anggota masyarakat yang baik dan mempunyai tempat dalam lingkungannya. Kemampuan ini akan dicapai oleh anak didiknya melalui kombinasi dan penyatuan antara nilai-nilai dan pengetahuan ilmiah dengan nilai-nilai dan moral masyarakatnya. Melengkapi perjalanan hidupnya serta kehidupan keluarganya ia kemudian berfikir untuk menjalin rumah tangga. Ia menikah dengan gadis keturunan gorontalo bernama Hayati Muhammad. Dari pernikahannya ia di karuniai dua orang anak laki-laki. Sebagai seorang ayah ia menganggap terasa lengkap sudah keluarganya, karena selain dua jagoan kecilnya ia juga memiliki dua orang putri. Dua orang puterinya diberi nama Yunita Wahyuni Borman dan J. Rachmawaty Borman, kemudian dua orang puteranya ia beri nama Darmawan Ashari Borman dan Moh. Ikram borman. Tujuh belas tahun kemudian setelah selesai di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Makassar, tepatnya pada tahun 1984. Untuk menambah wawasan dan pengetahuannya tentang Administrasi, ia kemudian memilih melanjutkan pendidikannya di Pascasarjana Universitas Hasanuddin di jurusan Kebijakan Publik. Tahun 2001, beliau lulus dari program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar dengan menulis Tesis yang berjudul “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam Program Pembangunan Prasarana Dasar Pemukiman Pedesaan di Kabupaten Parigi Donggala” Tesis inilah yang dapat dijadikan sebagai bentuk pembuktian mengenai kemampuan dirinya sebagai seorang birokrat di Sulawesi Tengah yang betul-betul paham dengan tugas pokok dan fungsinya. Selama menjadi Pegawai Negeri Sipil, beliau pernah mengikuti berbagai kursus dan diklat, seperti Kursus Manajemen Proyek di Palu, Pendidikan dan Pelatihan Penyusunan Modul di Jakarta, Pendidikan dan Pelatihan Sistem Administrasi Negara, Pendidikan dan Pelatihan Pengelolahan Peningkatan Pemerintahan Desa (PEMDES), Pendidikan dan Pelatihan Trasformasi Budaya Kepemimpinan, Pendidikan dan Pelatihan Nasional Teknik Penyusunan Dokumen Nasional, dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Negara. Pengalaman mengikuti berbagai macam kegiatan membuat dirinya semakin matang dalam menentukan pilihan yang tepat dalam perjalanan hidupnya . Riwayat Organisasi Sang Tokoh Pulang dari Manado, setelah meraih gelar Sarjana Muda, ia mulai aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan. Tahun 1975, dua tahun setelah lulus kuliah di Manado, Taswin Borman didaulat untuk menjadi Koordinator Buruh Remaja. Dua tahun berikutnya (1977), beliau masuk sebagai anggota KOPRI. Tahun 1978, ia diangkat menjadi Pengurus Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Pada tahun yang sama pula, ia didaulat untuk masuk ke jajaran pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia Dati I Sulteng. Kemudian ia merambah ke organisasi kepemudaan lainnya, yaitu KOSGORO Propinsi Sulawesi Tengah, saat itu dia ditunjuk untuk menjadi pengurus pada tahun 1980. Selama delapan belas tahun, beliau tampil dalam ketiga organisasi yang berbasis pemuda tersebut. Pada tahun 1998, pasca Orde Baru, angin perubahan bertiup kencang. Taswin Borman pun ikut terseret ke dalam angin perubahan tersebut. Namun ia tidak larut dalam perubahan itu. Di tahun itu, ia didaulat untuk menduduki jabatan sebagai Sekretaris Sarjana Administrasi Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun itu pula, ia merasa terpanggil untuk mengembangkan dunia olahraga di Sulawesi Tengah. Sehingga diangkat menjadi Wakil Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Daerah Provinsi Sulawesi Tengah periode kepengurusan 1998-2002. Saat itu, KONI dipimpin oleh H.B Paliudju. Satu tahun setelah diangkat sebagai Wakil Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, ia diangkat lagi menjadi Wakil Ketua IV Kwartir Daerah Gerakan Pramuka periode 1999-2002. Tahun itu pula, ia kembali diangkat untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Badan Amil, Zakat, Infaq, dan Sadakah (BAZIS) Provinsi Sulawesi Tengah. Selain itu, masih ada beberapa organisasi lain yang ikut menghiasi perjalanan karir sang politis seperti Ketua Taekwondo Kabupaten Parigi Moutong, Penasehat Kerukunan Keluarga Lamahu Gorontalo (KKLG) Kabupaten Parigi Moutong, dan Pembina Persatuan Anak Transmigrasi Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah. Bagi Taswin Borman, keikutsertaannya ke dalam organisasi memberinya peluang dalam pertarungan politik yang sebenarnya. Organisasi pada dasarnya tidak terlalu penting bagi mereka yang tidak pernah menyadarinya. Keterlibatan dalam beberapa organisasi di atas, pada dasarnya memberi jalan secara politik bagi sang pelaku. Pelaku dapat saja menyuarakan kebenaran, tanpa pemikiran bahwa masih ada orang lain yang butuh dengan dirinya. Politik menurut pendapatnya ialah “ Ilmu dan Seni agar seseorang dapat (bisa) mempengaruhi orang lain dalam rangka menyukseskan program hidupnya”. Jabatan terakhir selama berkecimpung di dunia birokrasi adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Parigi Moutong pada tahun 2002. Kemudian pada tahun 2006 diangkat sebagai pejabat Widyaiswara Madya Provinsi Pemerintah Daerah Sulteng. Pada tahun 2007 oleh Gubernur Sulawesi Tengah, ia diangkat sebagai Asisten Administrasi Setdaprov Sulteng. Selesai mengemban tugas sebagai Asisten II gubernur Sulawesi Tengah, ia berpasangan dengan mantan Wakil Bupati, Ir. H. Asmir Ntosa, M. Si. tampil sebagai Calon Wakil Bupati Parigi Moutong periode 2009-2012 mendampingi Asmir Ntosa. Namun hasil pemilihan menyatakan lain dari harapan para pendukungnya. Pada pemilihan kali itu, ada tiga orang dari keluarga Borman yang hadir di panggung persaingan politik memperebutkan Kursi Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong. Namun Sutomo Borman, sang sepupu meninggal dunia sebelum diadakannya Pesta Demokrasi tersebut. Meski tidak mendapatkan Posisi yang diharapkan beliau tidak pernah kecewa dengan keadaan yang ada, karena menurut pendapat beliau “Jabatan merupakan suatu rezeki dan cobaan dari Allah, jika belum berhasil maka itu bukan rezeki kita dan jika kita diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin maka itu adalah cobaan untuk menjadi Teladan karena semestinya Pemimpin ialah Teladan”. Ada tiga hal menarik dari keterlibatan Taswin Borman dalam organisasi sosial, yakni pertama, dari kurang lebih Tiga Puluh organisasi yang diikutinya. Ketiga Puluh organisasi tersebut dapat dikategorikan ke dalam enam kategori, yaitu Sosial Keagamaan (BAZIS), sosial kemasyarakatan (Anak Transmigrasi Indonesia, LPTQ, KKIG Parigi Moutong, serta Gerakan Pramuka), organisasi massa (Buruh,), Organisasi Profesi (Korpri dan Sarjana Administrasi Sulawesi Tengah), Organisasi Pemuda (AMPI, KNPI, dan KOSGORO), dan organisasi olahraga (KONI dan Persatuan Taekwondo Indonesia Sulawesi Tengah). Kedua, Masih ada ciri dasar sebuah organisasi sosial yang memilih para birokrat sebagai pengurusnya. Hal ini biasanya tidak pernah dipermasalahkan oleh anggota. Inilah yang menjadi satu ciri organisasi sosial kemasyarakatan di Sulawesi Tengah. Ketiga, ada sebuah siklus yang terbentuk dari keterlibatan beliau dalam setiap organisasi. Pada periode awal, Taswin Borman masuk ke organisasi massa, kemudian ke organisasi profesi, seterusnya organisasi kepemudaan. Setelah itu, ia masuk ke organisasi keagamaan, yaitu BAZIS, selanjutnya organisasi olahraga, dan terakhir ke organisasi sosial kemasyarakatan. Riwayat Pekerjaan. Menjelang pertengahan tahun 1970-an, beliau telah mejadi seorang PNS. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatannya sebagai anggota Kopri. Inilah awal perjalanan Karier beliau yang cukup cemerlang. Hingga akhirnya ia tiba dipuncak, yaitu ketika menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Parigi Moutong. Kariernya ia mulai pada tahun 1973 sebagai Staff Biro Pemerintahan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah dengan gaji Rp. 120,00 /hari sampai akhirnya ia mendapat gelar PNS pada tahun 1977. Kemudian pada tahun 1978 ia diangkat sebagai Kepala Seksi Statistik Penduduk Biro Pemerintahan Setwilda Tingkat Sulteng. Satu tahun kemudian ia diangkat sebagai Kepala Sub Bagian Pemasaran Biro Bina Pengembangan Sarana Perekonomian Daerah Setwilda tingkat I Sulteng. 1985 ia diangkat sebagai kepala Sub Bagian Umum BP-7 Dati I Sulteng Pemda Tingkat I Sulteng. Pada tahun 1991 ia diangkat sebagai Kepala Bagian Pendidikan dan kebudayaan Biro Binsos dan Mental Spritual Setwilda Tingkat I Sulteng. 1993 beliau diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Diklat Provinsi Sulteng. Tahun 1995 ia diangkat sebagai Kepala Bidang Penjenjangan Diklat Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 1997 ia dipercayakan untuk menjabat sebagai Kepala Biro Bina Sosial Setwilda Tingkat I Sulteng. Pada Tahun 2000 ia diangkat sebagai Kepala Kantor PMD Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2002 dia dipercaya sebagai Sekretaris daerah Kabupaten Parigi Moutong. Tahun 2006 ia diangkat sebagai Widyaiswara Madya Provinsi Pemda Sulteng. Tahun 2007 diangkat sebagai Assisten Administrasi (II) Setda Prov Sulteng. Selain aktif di bidang politik ia juga aktif dibidang pendidikan, ini terbukti setelah ia menyelesaikan pendidikan Magister Sosial Inquary (M.Si), Taswin Borman mendapat kesempatan untuk menjadi dosen pada beberapa Perguruan Tinggi di Palu. Pertama kali, ia diangkat sebagai Dosen Tidak Tetap di STIM Pancabakti Palu. Kemudian dia diangkat sebagai Dosen Tidak Tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Panca Marga Palu. Selanjutnya masih pada posisi yang sama, yakni diangkat sebagai Dosen Tidak Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Panca Bhakti Palu. Selain itu, ia diangkat sebagai Penatar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Ia diangkat oleh BP7 sebelum Orde Baru lengser ke prabon. Hal yang menarik saat mengkaji Riwayat pekerjaan Taswin Borman, Ia tidak hanya memiliki jabatan Struktural akan tetapi juga memiliki pangkat fungsional. Pangkat structural terakhir yang ia dapatkan ialah IV E, namun sejak tahun 1987 berdasarakan SK Kopertis wilayah IX (Makassar) ia telah dianugerahi Jabatan Fungsional akademik sebagai asisten ahli yang kemudian ia benar-benar mengabdikan dirinya kepada pendidikan sampai pada tahun 2006 mendapatkan pangkat atau jabatan Widyaswara Madya (Luar Biasa) IV C. Inilah yang menjadi bukti keseriusannya memikirkan pendididkan di Sulawesi Tengah, ia berani mengambil resiko berhenti sebagai Sekab Parigi Moutong dan mengajar sebagai Widyaswara. Kehidupan Masa kini sang Politisi Selain sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, hingga kini ia masih aktif dalam organisasi masyarakat. Ia berasumsi bahwa tidak ada kata berhenti untuk belajar. Selain masih sibuk dengan tugasnya sebagai wakil rakyat, Laki-laki yang memiliki prinsip Belajar tidak mengenal usia ini juga masih aktif mengajar di beberapa Universitas di Kota Palu. Diluar tugasnya tersebut ia masih memiliki Jiwa Organisasi yang kuat. Ini dapat dilihat dari organisasi yang kini sedang ia tangani. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Gapenta (Gerakan Pemuda Anti Rokok dan Narkotika), ketua harian FORKI (Front Olahraga dan Karate), Ketua KKIG ( Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo), Pembina Kerukunan Keluarga Mandar di Parigi serta Penasehat Taekwondo kabupaten Parigi Moutong. Kesibukan lain yang telah menyita waktunya adalah mengajar sebagai seorang Widyaswara. Meski telah menjadi seorang anggota DPRD ia tidak pernah lupa dengan tugas lamanya sebagai pengajar. Selain sebagai tugas wajib ia juga telah menganggap Pendidikan adalah bagian dari hidupnya. Setelah jabatan Widyaswara Madya (luar biasa) diberikan kepada beliau, menambah motivasinya untuk belajar dan mendidik. Penghargaan sebagai Widyaswara luar biasa inilah yang membuktikan bahwa beliau merupakan tokoh yang dianggap mampu dan dibutuhkan guna mengembangkan pendidikan di Sulawesi Tengah. Sebagai pembuktian atas jasa-jasa dan keaktifannya memajukan pengetahuan dan organisasi masyarakat, beberapa organisasi memberikannya Penghargaan seperti Ahli Karya Award pada tahun 1988 dari Yayasan Pendukung Karier dan Prestasi, Citra Mandiri award Tahun 1999 dari Yayasan Restu Bunda, Program Pertukaran Pemuda Tahun 1999 dari Dirjen DIK Menpora Depdikbud, Citra Kepeloporan Tahun 1999 dari Yayasan Pendukung Karier Prestasi, Satya Lencana karya setya tahun 2000 dari Presiden RI, dan Ahli Karya Nusantara Tahun 2005dari Karya Abadi Pembangunan. Taswin Borman: Penyambung Lidah Rakyat Sebagai bukti pengabdiannya dan perhatiannya terhadap masyarakat Sulawesi Tengah khususnya masyarakat Parigi Moutong yang telah memilihnya sebagai wakil rakyat Parigi Moutong di gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Drs H Taswin Borman M.Si menggelar reses di beberapa Kecamatan seperti Kecamatan Moutong, Taopa, Lambunu, Tomini, Palasa, tinombo, Kasimbar, Dolago, Balinggi, Sausu. Beberapa waktu yang lalu ia mengunjungi dua daerah yaitu kecamatan Moutong dan kecamatan Taopa. Saat reses di kecamatan ini, warga setempat meminta dibuatkan gerbang di tapal batas yang menandai wilayah administratif Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Menurut Taswin, usul warga tersebut adalah sesuatu yang perlu ditindaklanjuti dan seharusnya kata mantan Sekkab Parimo ini, perlu ada pemisah yang menandai batas sebuah wilayah pemerintahan baik itu antar kabupaten terlebih lagi antar provinsi. Selain soal tapal batas, masyarakat dibagian timur Provinsi Sulawesi Tengah juga merasa masih butuh beberapa bangunan-bangunan administrasi seperti kantor camat Moutong dan perbaikan jalan menuju wilayah Timur Sulteng ini. Menurut Taswin, jika dipilah-pilah mayoritas aspirasi warga yang dikemukakan di dua kecamatan tersebut adalah kewenangan pemerintah kabupaten. Namun demikian, ia juga merasa perlu untuk menyampaikan aspirasi rakyat tersebut kepada pemerintah Kabupaten Parigi Moutong. Katanya, pihaknya menerima semua aspirasi tersebut, untuk kemudian dikomunikasikan dengan pemerintah kabupaten Parimo. Sedangkan aspirasi yang bisa ditangani oleh pemerintah provinsi, akan dilaporkan di dewan untuk kemudian menjadi sikap resmi dewan agar ditindaklanjuti. Taswin meminta pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, melibatkan anggota dewan asal Parigi Moutong pada Forum Musrenbang tingkat kabupaten. Setidaknya agar pihaknya bisa mendengar, menyaksikan dan menyimak langsung program-program kabupaten yang bisa disinkronkan dengan provinsi. “Jangan sampai program provinsi di kabupaten tidak ketahui oleh pejabat setempat”, katanya. Bagaimanapun juga masyarakat Parigi Moutong telah mempercayakan dirinya sebagai penyambung lidah rakyat untuk disampaikan kepada pemerintah. Ia juga merasa sebagai perwakilan rakyat merasa memiliki peran sebagai pengemban “mandat” rakyat yang memiliki kewajiban untuk bicara dan bertindak atas nama masyarakat. Taswin Borman di Mata Orang-orang sekitarnya Anggota DPRD Sulawesi Tengah ini dikenal sebagai sosok pemimpin yang ramah, berwibawa, santai dan baik dimata rekan-rekan mengajarnya maupun masyarakat. Dimata para Staff Kediklatan BKPPD Provinsi Sulteng ia dikenal selain Sebagai anggota DPRD Provinsi, beliau masih tetap aktif mengajar dan mendidik Peserta Diklat Pim (Pimpinan) III dan IV (Pemda maupun Kabupaten). Ia tidak memposisikan dirinya sebagai pejabat meski ia seorang anggota DPRD. Beliau Smart, low profile, bisa beradaptasi dengan siapa saja sehingga mudah diterima oleh orang lain namun tetap berwibawa. Lain pendapat Staff, lain pula pendapat rekan seprofesi Widyaswara, Beliau terkenal baik dan ramah. Dalam mengajar pun ia santai dalam memberikan materi, meski ia spesialis materi Pelayanan Prima namun bisa mengajar materi-materi lainnya. Itu membuktikan bahwa beliau ialah orang pendidikan. Ia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap pendidikan. Sifat dan tingkah lakunya yang bisa beradaptasi dan membaur dengan siapa saja ternyata tak pernah lepas dari pedoman hidupnya bahwa hari ini kita menanam yang terbaik meski esok kita tidak bisa memetik hasilnya. Berusaha berbuat baik kepada orang lain, meski bukan orang itu yang akan membalas kebaikan kita namun masih banyak orang yang lainnya. Di mata masyarakat, Taswin pun dikenal sebagai pemimpin yang baik, ia tidak pernah membedakan mereka yang berasal dari kalangan atas atau dari kalangan bawah. Ia menerima dan bersosialisasi dengan siapa saja. Beliau tidak segan-segan singgah dan menginap dirumah penduduk. Sebagai wakil rakyat ia berpendapat bahwa tugas pemerintah itu ialah, yang pertama Berusaha agar bagaimana masyarakat itu bisa cerdas. Kedua, Masyarakat harus sehat. Ketiga, Menyejahterakan masyarakat. Keempat, Melayani masyarakat dengan baik. Dasar itulah menyebabkan ia berani berinteraksi dan diterima masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar